Semakin pekatnya kabut asap di Riau serta memburuknya kondisi udara, membuat banyak masyarakat Kota Pekanbaru yang eksodus (meninggalkan tempat asal secara besar-besaran,red) ke wilayah aman, salahsatunya Sumatera Barat (Sumbar), yang asap dan kualitas udaranya lebih baik dibanding Riau.
Ini dilakukan, untuk menghindari keluarga dari penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), dimana Dinas Kesehatan Riau mencatat, sudah 25.037 jiwa diserang penyakit akibat asap. "Kita mau mengungsi ke Bukit Tinggi, besok berangkat. Kami tak mau anak kami kena penyakit," sebut seorang warga bernama Ira Puspita (28).
Kepada GoRiau.com, Ira mengatakan bahwa sudah hampir tiga pekan anaknya yang berusia delapan bulan tak pernah keluar kamar, lantaran pekatnya asap menyisip masuk ke dalam rumah. "Saya saja masak pakai masker, di kamar pakai masker, bahkan tidur sama suami pakai masker. Cuma mandi saja maskernya dilepas," sesalnya.
Serupa dengan itu, ibu rumah tangga bernama Putri (29) juga mengatakan, ia terpaksa mengungsikan anaknya yang berumur 2 tahun lantaran takut diserang penyakit. Bahkan Putri rela berpisah lantaran tak bisa ikut karena bekerja. "Mau tak mau saya pisah dulu dengan anak. Biar neneknya yang jaga disana," sebutnya.
Parahnya kabut asap di Pekanbaru pada Senin (14/9/2015), sempat diabadikan GoRiau.com dari puncak menara lancang kuning, lantai sembilan kantor Gubernur Riau. Dari atas, Kota Pekanbaru terlihat memerah (foto bagian bawah,red). Sedangkan dari bawah asap terlihat warna putih.
Bahkan patung sepasang penari yang berada di bundaran kantor Gubernur Riau, dipasangi masker, sebagai simbol parahnya kabut asap. Selain itu, kepanikan warga akibat asap juga ditunjukkan dari status Blackberry massager. Isinya ada yang mengumpat, ada yang berdoa agar hujan turun, dan tak sedikit pula yang ingin mengungsikan keluarga mereka.
"Asap cenderung semakin pekat khususnya pada pagi dan malam hari, disebabkan suhu dingin sehingga massa udara akan turun dan sekaligu membawa asap," sebut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru, Sugarin, Senin sore. (had)









0 comments:
Post a Comment